Entah berapa kali ia telah berjalan di depan rumah itu yang mungkin baginya, keinginan hati untuk menghentikan perputaran bumi sehingga dapatlah bergerak bebas dalam kehidupannya.
Kunjungannya ke tempat itu hanyalah sekedar membahagiakan hatinya yang telah luput dari arus masa lalu yang melekat dan merekat dalam bathin ke istimewaan hidupnya yang selalu memburunya dalam setiap terbit dan tenggelamnya matahari.
Dia terhenti tepat di hadapan rumah itu.Terhenyatlah,seketika wujud kemanusiaan dalam dirinya berubah. Keakuannya meninggalkan dirinya sendiri, tak ada yang dapat dilakukannya selain berdiri di depan pintu rumah yang berwarna putih ke abuan-abuan, dilengkapi pula dengan empat jendela, berterali besi, dibagian samping dengan empat jendela, samping kanan 5 jendela, bagian belakang hanya terdapat tiga jendela.
Kayu yang membentuk rumah itu, merapatkan dirinya dalam sehingga tercipta suatu design keindahan akan rumah kehidupan. Read the rest of this entry »
















Recent Comments