Pemikiran Singkat Para Filsuf Dunia

Education No Comments »

Pemikiran Singkat Para Filsuf Dunia

 Apa yang tak mampu membunuhku, hanya akan membuatku lebih kuat (NIETZSCHE)

 

Thales (+ 585 SM) :
“Segala sesuatu penuh dengan dewa” (kosmologi naturalistik). Air adalah prinsip pertama (kesatuan/monistik di balik keberagaman dunia).

Anaximander (+ 611-546 SM; pendiri Astronomi) :
Seorang metafisikawan monistik naturalistik yang meyakini bahwa substansi pertama adalah “Yang Tak Terbatas” : kesatuan primitif semua substansi.

Pythagoras (586-500 SM; pendiri komunitas persaudaraan rahasia) :
Kunci pemahaman tentang semesta terletak pada angka-angka, karena segala sesuatu adalah angka.

Siddharta Gautama (+ 563-483; pendiri agama dan filsafat Buddha) :
Empat kebenaran mulia: (1) Hidup adalah dukkha (penderitaan); (2) Sebab dari penderitaan adalah tanha (hasrat/kehendak dan kelekatan dengannya, yang darinya muncul ego); (3) Penderitaan dapat diatasi dengan memutuskan tali kelekatan; (4) Hal itu dapat dilakukan dengan mengikuti Delapan Jalan Kebaikan, yaitu: (1) Samma-ditthi (pengertian yang benar); (2) Samma-sankappa (maksud yang benar); (3) Samma-vaca (bicara yang benar); (4) Samma-kammarta (laku yang benar); (5) Samma-ajiva (kerja yang benar); (6) Samma-vayama (ikhtiar yang benar); (7) Samma-sati (ingatan yang benar); dan (8) Samma-samadhi (renungan yang benar). Segala sesuatu saling berhubungan dan dalam keadaan mengalir. Read the rest of this entry »

Feminis : Mengapa Problematis ?

Gender No Comments »

Feminisme : Mengapa Problematis ?*

Istilah “feminisme” di tanah air kita oleh banyak kalangan ditanggapi sebagai bahan impot yang tidak relevan dengan kultur kita. Sekalipun demikian, istilah ini tidak dengan serta merta lneyap begitu saja. Terutama di dalam diskusi-diskusi teoritis yang berbicara soal perempuan, feminisme baik dari segi istilah maupun paham sudah pasti hadir sebagai acuan prinsipil. Suka atau tidak, ia merupakan sebuah wacana teoritis dan filosofis yang hadir dengan daya pikat yang kuat dan memang penting untuk dipersoalkan.

Sepanjang sejarahnya di tanah air, ia sering diidentikkan dengan “emansipasi wanita” dan ketika pemerintah menganggap bahwa perempuan memang layak diperhitungkan di dalam pembangunan, feminisme di tolak lalu dikenalkan sebutan “wanita dalam pembangunan”, dengan alas an esensial bahwa feminisme tidak sesuai dengan kultur bangsa kita. Dan untuk mencari alasan-alasan teoritis yang mandiri sesuai dengan kultur bangsa kita, maka ditampilkanlah figure-figur perempuan, terutama lewat kajian histories, misalnya Kartini sebagai figure histories yang paling dikedepankan.

Sebenarnya, usaha seperti itu tidaklah menjadi persoalan. Tetapi tampaknya kita perlu rendah hati bahwa hingga kini kita belum juga berhasil menciptakan sebuah teori tentang perempuan sebagai referensi kontekstual. Hal ini sangat menyolok apabila kita lihat dari hasil tulisan-tulisan yang representative tentang perempuan baik itu di media-media masssa atau yang berbentuk skripsi dan sejenisnya, atau mendengar tentang permasalahan ini di seminar-seminar, umumnya masih saja mengandalkan referensi teoritis yang nota bene adalah feminisme, bahan import itu. Yang sangat mengherankan ialah mengapa dari ketidakmampuan kita dalam konteks penciptaan teori sendiri ini lantas begitu cepat dengan mudah kita mengecam teori-teori dari Barat?.

Pendekatan yang perlu ditinggalkan

Seorang pengamat bernama Ratna Megawangi pernah menulis artikel berjudul Tanggapan Terhadap Salah Kaprah Hari Ibu (Kompas, 1 Februari 1994), yang menurut saya, termasuk di antara problem di atas. Dengan menyertakan nama-nama feminis Barat yang terkenal di dalam argumentasinya, tulisan Ratna tampaknya sangat meyakinkan. Tapi apabila dilihat secara premis demi premis, ia sesungguhnya hanaya, mungkin secara tak sadar, mau menampilkan sebuah inferioritas pandangan teoritis tentang perempuan yang berwawasa cultural-kontekstual. Apabila ketika ia menyitir bahwa keluarga yang terfragmentasi di Barat adalah Read the rest of this entry »

Kepak Sayap Rapuh

Poetry No Comments »

Kepak Sayap yang Rapuh

Oleh : M. Iqbal Kafka A

“Selamat yah Gusti (sambil meraih tangan Gusti untuk jabat tangan) …, untuk keberhasilan mu dlm perlombaan itu”. Sambut Ratna..

Dengan raut muka kegembiraan Gusti menjawab “Iya sama-sama Rat, saya berhasil itu juga berkat dukungan kamu, tanpa kamu yah hasilnya so pasti nihil ”.

Setelah mendapat ucapan selamat dari teman-temannya. Gusti pun bergegas menuju kelas untuk mengikuti mata kuliahnya.

Bayang kegembiraan masih saja menyelimuti hati dan perasaan Gusti, hingga tanpa sadar, waktu yang dilewati pada kuliahnya hari ini tak terasa telah usai.

Inti dasar dari kehidupan manusia, dikatakan tercapai secara sempurna bilamana kehidupan yang dijalani, melalui proses yang telah diatur oleh alam tanpa mengingkari apa yang alam inginkan.

Kebahagian yang diraih atas proses pembentukan jati diri melalui bentuk apapun, yang pada intinya termanifestasi dalam pikiran, ketika pikiran tersebut diolah dengan baik, dengan peningkatan bakat yang baik pula. Inilah kebahagian yang utuh.

Seperti biasanya, ketika jam kuliah dh selesai Gusti sering mendatangi Perpustakaan kampusnya. Tempat inilah yang dianggapnya sebagai sumber inspirasinya, meskipun inspirasi tersebut lahir diantara susunan rak-rak buku dalam keteraturan hidup yang terkotak-kotak. Read the rest of this entry »

Gender: Aku, Kamu, Kita; Belajar Berbeda

Gender 3 Comments »

GenderAku, Kamu, Kita; Belajar Berbeda**

Siapa , perempuan, yang tidak membaca Le Deuxieme sexe [jenis kelamin kedua . perempuan mana yang tidak tergugah? Dan mungkin menjadi feminis? Memang, Simone de Beauvoir adalah satu di antara penulis pertama pada abas XX yang mengingatkan parahnya eksploitasi perempuan. Ia juga yang mendorong setiap perempuan yang kebetulan membaca bukunya untuk merasa sepenanggungan dan bertekad menolak sekuat tenaga perendahan dirinya serta buaian mitos sanjungan.

Sebenarnya apa yang telah dilakukan oleh Simone de Beauvoir? Ia menceritakan kehidupannya dengan dukungan penjelasan ilmiah. Ia tidak pernah berhenti menceritakan, dengan jujur dan berani, setipa tahap kehidupannya. Hasilnya, ia mebantu banyak perempuan dan laki-laki untuk menjadi lebih bebas dengan jenis kelamin masing-masing. Teristimewa ia menawarkan satu model social budaya, kehidupan perempuan, kehidupan guru perempuan, kehidupan sastrawan, dan kehidupan pasangan yang berterima pada zaman itu. Aku pikir ia juga membantu mereka untuk menempatkan diri secra lebih objektif dalam berbagai tahap kehidupan.

Namun, Simone de Beauvoir telah berbuat lebih banyak lagi. Kepeduliannya pada keadilan social mendorongnya mendukung feminis tertentu dalam aksi mereka, perjuangan mereka. Ia membantu mereka bangkit dalam kancah social dengan menandatangani berbagai petisi mereka, dengan mendampingi aksi mereka, dengan mendorong penerbitan rubric feminis di majalah Les Temps Modernes [Zaman Modern]. Dengan menulis prakata pada buku mereka, dengan menjadi tamu dalam berbagai acara televisi yang mereka selenggarakan, dengan enjadi sahabat mereka. Read the rest of this entry »

Ego Ganda Manusia (Suatu Refleksi)

Poetry No Comments »

Ego Ganda Manusia

Oleh : M. Iqbal Kafka Akhsa

Ketegangan yang terjadi diantara manusia, dalam sebuah gubuk dengan dinding kayu rapuh,serapuh hati dan jiwanya untuk tetap berusaha pada nafsu kekiniannya membuat suasana kesunyian yang begitu indah menjadi gaduh bak merdunya Guntur ketika mendung mengiringi.

Apa yang terjadi ?. sisi kehidupan yang dijalani menimbulkan pertentangan. Melakukan penolakan sikap terhadap subjek yang terkadang tidak konsisten sehingga dengan mudahnya sebuah air di samudra luas terombang-ambing akibat penyerangan hembusan angin keegoan. Demikian juga dengan tumbuh-tumbuhan di alam bebas tak dapat juga menghalaunya. Meskipun pada saatnya nanti akan kembali pada titik semula,

“ saya tidak mengerti akan keegoan dan kemunafikan dirimu hei manusia, kebinatangan diriku tercipta hanya untuk sifat dan jatidiri kebinatanganku sendiri. Mengapa kamu meniru sifat kebinatanganku ?. dimana letak kemaluan mu. Apakah para manusia iri dengan sifat kebinatangan kami?”.

Inti dasar kehadiran makhluk yang dinyatakan bernyawa dalam alam kebebasan ini tak ubahnya melahirkan berbagai persamaan dalam perbedaan dari tolak pikir kemanusian. Begitu indahnya alam kebebasan di bumi ini tanpa aturan-aturan yang menyempitkan toh jiwa kebinatangan dapat hidup dengan baik. Read the rest of this entry »

Dibatas Stasiun Hall Bandung

Poetry No Comments »

Stasiun Hall BandungDibatas Stasiun Hall Bandung*

Oleh : Kafka Pizechust.

Waktu yang telah berlalu sering mengingatkan semua hal akan keindahan dan kepahitan akan hidup yang telah dijalani. Pertemuan yang tanpa pertemuan lebih awal mengajarkan indahnya keberuntungan hidup.

Perkuliahan hari ini telah usai, para generasi muda penerus bangsa di kampus perjuangan sebahagian bergegas untuk meninggalkan kelas. Namun ada yang aneh setelah perkuliahan ini, ini keanehan bercampur seakan raut mukanya telah ditaburi terigu, gula dan sebutir telur yang nantinya digoreng, makanan khas sewaktu kecilnya. Wajah keanehan menyelimutinya, namun terkadang manusia yang memberikan penilaian tidak mengetahui akan lapis wajahnya. Biarlah mereka menganggap keanehan yang mengjanggal diri.

Di dekatinya si wajah aneh tsb, “hai teman p kabar nih ?” sahut sang lelaki perfecsionis. Balasan senyuman manisnya, semanis mangga yang membusuk dalam kebusukan dirinya.

“ Baik bro… tumbeng nih kamu sapa saya, ada perlu apa?”. Tas kuliahnya yang berisi buku-buku politik para politikus dungu yang isinya lebih kurang membicarakan konsep kesejahteraan rakyat tanpa menyadari dirinya melewati imajinasi- imajinasi akan hal tersebut.

“Kamu langsung ke kost-an atau nongkrong dulu ? gimana kalo kita ajak teman-teman diskusi dulu !”. Ucap wajah aneh. Read the rest of this entry »

Kapan Kudengar Mereka Bercerita “Indahnya Negeriku” ???

Nasionalisme 2 Comments »

Kapan Kudengar Mereka Bercerita “Indahnya Negeriku” ???

Oleh : M. Iqbal

“Melahirkan Kritik biasanya mudah, karena lidah tidak bertulang. Akan Tetapi kritik yang berarti ialah kritik yang berdasar kepada keikhlasan dan keberanian menanggung jawab. Siapa yang berani mengkritik perbuatan orang, ia harus berani berbuat sendiri dan mengerjakan yang lebih baik. Kalau tidak begitu, kritik itu berarti negatif, mencegah dengan tiada memajukan tukarannya”. Drs Mohammad Hatta

Tulisan ini hanyalah sebuah ungkapan dari seorang anak negeri, sedih dan terkesimah melihat, mendengar, dan merasakan apa yang orang ucapkan.

Semua terjadi disaat mentari mulai menampakkan dirinya, diiringi pula dengan merdu suara burung, membawa kabar dari ibu pertiwi; semangat dan semangat untuk terus berjuang.

Ketika ku bangun di pagi hari, dan segera menyalakan TV untuk menonton kabar pagi ini, “Apa yang mereka Beritakan” ? :

Kondisi Masyarakat Indonesia makin terpuruk, di timpah gizi buruk, pengangguran yang makin meningkat, berbeda dengan DULU.

Ketika kulangkahkan kaki ini menuju kampus, kemudian melalui para pedagang Koran di Stasiun “Apa yang kulihat” ?

Tampak Media Cetak, pada sampul depan wartawan menuliskan beritanya, Para wakil rakyat mengembangkan sikap terbaru mereka Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, para wakil rakyat tidak sensitive lagi pada aspirasi masyarakat, di tiap-tiap daerah terjadi bencana akibat ulah kita sendiri. Read the rest of this entry »

Mereka Menyebutnya Globalisasi

Globalization 1 Comment »

Mereka Menyebutnya Globalisasi*

Oleh : M. Iqbal Kafka Akhsa

Istilah Globalisasi mulai dikenal ketika maraknya aksi demonstrasi di kota Seatle, penghujung 1999 (November). Ini terjadi pada saat pertemuan angggota-anggota World Trade Organization. Para demonstran melakukan orasi dengan sebuah tema Anti Kapitalisme. Aksi demonstrasi ini kemudian berlanjut kembali di Washington, Praha, Melbourne, Millau dan Nice, bahkan hampir diseluruh penjuru dunia. Kejadian diatas hanyalah merupakan puncak gunung es akan penentangan terhadap kapitalisme.

Menolak Agenda Neolib. Ideologi ini diucapkan dalam ideologiy konservatif yang dijuluki Thacerism di Inggris dan Reaganomics di Amerika. Kemudian logika ini selanjutnya di dukung oleh golongan Social Demokratik dalam program The Third Way yang juga prokapitalis (Antony Giddens).

Pilar utama ideology ini adalah, Liberalisasi (membongkar hambatan perdagangan dan investasi), Privatisasi (mengurangi peran Negara dalam mengelola ekonomi), Deregulasi (seperangkat aturan untuk menfasilitasi pasar dan swasta).

Menurut Argumentasi mereka ,segala intervensi Negara di bidang ekonomi sejak era 1930 hanya mengakibatkan industri-industri memboros yang tidak efisien. Ambruknya blok Soviet Serta kemandegan dan kesengsaraan Amerika Selatan dan Afrika, menurut mereka telah membuktikan betapa celakanya konsekuensi intervensi pemerintah. Kemiskinan di dunia ketiga dapat diatasi dengan menerapkan kebijakan pasar bebas yang tak kenal ampun, melalui kegiatan WTO, IMF, dan Bank Dunia. Read the rest of this entry »

Teknik Penulisan Berita

Education No Comments »

Teknik Penulisan Berita

oleh:M.Iqbal Kafka

Sebuah berita ditulis tidak hanya karena merupakan peristiwa besar. Lebih dari itu berita disampaikan terutama melalui tulisan merupakan bagian dari kerja jurnalistik menyampaikan informasi penting bagi masyarakat. Dengan informasi ini dalam bentuk paket berita masyarakat bisa memahami apa yang terjadi di sekitarnya dan bertindak berdasarkan informasi dari media massa itu.

Oleh sebab itulah, ada beberapa pilar penting dalam penulisan berita.

1. Akurasi

Sebagai seorang wartawan, dia memiliki banyak kekuasaan. Apa yang ditulisnya bisa mempengaruhi keputusan orang lain. Tulisannya banyak dibaca orang. Taruhlah sebuah koran dengan oplag 200.000 eksemplar per hari maka berapa banyak orang yang membacanya. Dengan angka seperti itu pula, berapa banyak orang yang terpengaruh oleh laporan berita yang ditulis seorang jurnalis. Oleh sebab itulah maka akurasi, ketepatan menulis berita haris bisa ditegakkan. Akurasi dalam nama, tempat, peristiwa, waktu dan keterangan saksi dalam berita itu menjadi pilar penting. Tanpa akurasi, media massa tidak dapat dipercara. Jika tidak dapat dipercaya maka akan ditinggalkan pembacanya, tinggal menunggu mati. Sekali lagi akurasi adalah penting sekali dalam sebuah berita. Read the rest of this entry »

Tragedi Pejalan Kaki

The Opini No Comments »

Tragedi Pejalan Kaki

Oleh : M.Iqbal dan Budi Ernanto

Ada satu hal yang harus kita sadari bahwa hak kita sebagai pejalan kaki di Jakarta dicabut, atau mungkin tidak hanya di Jakarta yang merupakan kota metropolitan, dikota lain manapun di Indonesia kita tidak dapat dengan bebas berjalan kaki. Alasan apa yang mendasari kita berbicara begitu? Adalah tak lain dari tidak disediakannya tempat untuk berjalan kaki, yaitu trotoar.

Status kita adalah pejalan kaki apabila kita berada di jalan dan tidak menggunakan kendaraan baik bermotor maupun tidak bermotor. Tapi kita hanya menerima nasib menjadi manusia yang tidak berstatus apabila kita berjalan kaki di jalan, itu semua karena kita tidak disediakan trotoar.

Dengan trotorar, maka kita dapat berjalan kaki dengan nyaman, tanpa takut akan tertabrak kendaraan. Karena trotoar selalu dibuat lebih tinggi dari jalan dan dibuat pembatas. Selain itu trotoar merupakan tempat umum yang dapat membuat kita saling mengenal satu sama lainnya. Tapi sekarang, karena tidak ada trotoar, kita tidak bisa saling mengenal satu sama lainnya, karena kita lebih memilih naik kendaraan pribadi dari pada menanggung resiko tertabrak mobil atau sepeda motor. Read the rest of this entry »

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Login